Selasa, 15 November 2011

Perbesar Buah Dada, Bisa Diukur Dulu yang Pas dengan Scanner 3D

Posted by kiteaje 19.43, under | No comments

London, Sebelum berada di bawah pisau bedah, kini wanita 'hampir' dapat mencoba berbagai ukuran implan payudara dengan scanner 3 dimensi (3D). Dengan demikian, wanita benar-benar akan mendapatkan ukuran payudara yang sesuai.

Teknologi scanner 3D baru yang diberi nama Vectra 3-D modeling system, mengambil gambar dari tubuh pasien sebelum operasi pembesaran payudara, kemudian menampilkannya dalam gambar 3 dimensi sehingga wanita bisa melihat bagaimana bentuk tubuhnya setelah operasi payudara.

Wanita bisa memilih dan mencoba-coba berbagai ukuran payudara sebelum ia memutuskan untuk benar-benar memasukkan implan ke dalam buah dadanya.

Tak hanya payudara, hidung, sedot lemak dan implan dagu juga bisa didigitalisasi dengan biaya 200 poundsterling (sekitar Rp 2,8 juta) untuk sekali pemodelan.

Vectra 3-D modeling system yang saat ini hanya tersedia di klinik Simply Better Breasts, London, sudah cukup tren di Inggris dan bintang The Only Way Is Essex, Chloe Sims (29 tahun) baru-baru ini sudah menggunakan teknologi untuk memilih implan bokongnya.

"Ketika kita melakukan perubahan pada payudara di komputer, kita dapat melihat pemandangan yang sangat realistis dan akurat tentang bagaimana payudara akan terlihat setelah operasi," jelas ahli bedah Miles Berry, seperti dilansir Thesun, Sabtu (12/11/2011).

Hal ini juga memungkinkan pasien untuk melihat tubuhnya dari sudut yang berbeda, meyakinkan pasien dan memungkinkannya membuat keputusan yang mendasar.

Vectra 3-D dikembangkan di New Jersey, Amerika Serikat, yang bekerja dengan menghasilkan sebuah foto 3 dimensi dari tubuh pasien. Perangkat lunak kemudian mensimulasikan hasil yang diharapkan dari berbagai prosedur bedah, sehingga memungkinkan pasien untuk melihat area tertentu dari berbagai sudut.

"Pasien-pasien saya benar-benar suka alat ini. Untuk pertama kalinya mereka bisa melihat gambar 3D dari diri mereka sendiri dengan tampilan baru mereka. Karena itu 3D, saya bisa memutar gambar untuk sudut pandang apapun dan mereka benar-benar dapat memeriksa hasil yang diinginkan," ungkap Dr. Mark Epstein, dari Center for Aesthetic Plastic Surgery di New York.







(mer/ir)


Redaksi: redaksi[at]detikhealth.com
Informasi pemasangan iklan
email : sales[at]detik.com

Virtual Plastic Surgery 1.0.0.1484 | Operasi Plastik Visual

Posted by kiteaje 19.40, under | No comments

Operasi plastik menjadi jalan pintas bagi orang-orang yang ingin memperbaiki / memperindah anggota tubuhnya, bisa itu operasi wajah, payudara atau operasi plastik lainnya. Tapi tidak semua operasi berjalan dengan lancar dan tidak pasti juga bagaimana hasil dari operasi plastik tersebut. Nah untuk memprediksi bagaimana jika melakukan operasi plastik bisa menggunakan software yang satu ini, Virtual Plastic Surgery berguna untuk memanipulasi / mengedit foto seakan-akan melakukan operasi plastik, dengan software ini kita bisa melakukan pembesaran atau pengecilan anggota tubuh dan yang lainnya seperti halnya operasi plastik sesungguhnya.



Nah jadi menggunakan software ini bisa mengecek dahulu apakah pas tidak operasi plastik yang akan dilakukan.

* Virtual rhinoplasty ( nose job )
* Virtual chin reduction / augmentation
* Virtual face contouring
* Virtual tummy tuck
* Virtual lips augmentation / reduction
* Virtual breast augmentation / reduction
* Any kind of virtual liposuction on face and body
* Virtual buttock augmentation / reduction
* Virtual Ethnic plastic surgery
* Virtual muscle augmentation / reduction
* .... many more virtual transformations...


Sumber Artikel Berasal Virtual Plastic Surgery 1.0.0.1484 | Operasi Plastik Visual ~ Jejak Cumi | Software And PC Game
di http://jejak-cumi.blogspot.com


Sumber Artikel Berasal Virtual Plastic Surgery 1.0.0.1484 | Operasi Plastik Visual ~ Jejak Cumi | Software And PC Game
di http://jejak-cumi.blogspot.com

Senin, 31 Oktober 2011

Hari Ini Kemungkinan Keluar dari ICU

Posted by kiteaje 23.45, under | No comments

Lisa Lambaikan Tangan pada



Lisa
Sejak namanya tertulis di media massa sebagai pasien operasi wajah, banyak yang penasaran siapa sebenarnya jati diri Siti Nur Jazilah atau Lisa. Benarkah dia menjadi korban broken home? Berikut catatan wartawan Suara Merdeka di Malang dan Surabaya.
SAAT muncul di televisi diberitakan ada seorang wanita bakal menjalani operasi wajah di rumah sakit Dr Soetomo Surabaya, bagi pasangan kakek nenek Samsuri Kusnoto -Wakinah terbesit tanda tanya besar tentang sosok wanita bernama Lisa. Apalagi belakangan nama Lisa lebih populer dibalik nama aslinya Siti Nur Jazilah.
"Apa Lisa itu bukan Jilah anaknya Saring-Siti Zulaikah? Apa bukan isterinya Mulyono?" berulang kali kata-kata itu diucapkan Samsuri dan Wakinah. Mereka hanya bertanya tanpa mendapatkan jawaban yang pasti.
Bahkan rumahnya menjadi "jujugan" tetangga sekitar yang punya tujuan sama, bertanya dan mencari kejelasan jati diri Lisa. Adalah Agus Salim, Kepala Desa Jeru, Malang. Mendengar nama Lisa, ia segera ingat kalau kakek nenek Samsuri yang tinggal di Dusun Panjer Desa Jeru RW 10 RT 03 punya cucu bernama Siti NurJalizah yang diperkirakan tujuh tahun tidak pulang.
''Lisa berasal dari keluarga broken home. Lama sekali saya tidak tahu di mana keberadaannya. Perkiraan saya Lisa itu bekerja di luar kota,'' katanya.
Menurut penuturannya, pernah ibunya dan kakak Lisa membawa dia ke psikiater karena depresi setelah ekonominya berantakan.
Perkembangan kabar berikutnya, Lisa, 22 tahun adalah korban women trafficking(perdagangan wanita-Red) tampaknya tidak meleset jauh. Dari pengakuan beberapa warga di Desa Jeru Turen, Turen, Malang di mana Jazil atau Jilah tinggal, gadis itu putus sekolah sejak kelas 2 Madrasah Tsanawiyah di desa setempat.
Kabar selanjutnya Lisa bekerja sebagai buruh di Malang meski kepastian tempatnya juga tidak diketahui. Kabar lainnya menyusul pada tahun 2001, ia terperangkap sebagai pekerja seks, namun secara tiba-tiba berselang satu tahun kemudian Jilah datang dengan laki-laki bernama Mulyono yang diaku sebagai suaminya. Hal itu diungkapkan Sholeh, tetangga Samsuri-Wakinah. Kepada kakeknya, Jilah pernah menunjukkan surat nikah dengan Mulyono. Pernikahannya dilakukan di Surabaya.
Tentang drop out-nya sekolah Lisa diakui Samsuri dan Wakinah. Masalahnya, karena waktu itu kondisi ekonomi keluarga Saring berantakan. Terlebih lagi setelah Saring ke Surabaya dan ibunya jadi TKW. Jilah kemudian bekerja di Surabaya. Beberapa kali menyempatkan pulang menengok kakek-neneknya di Jeru. "Nek wangsul mesti nggih mbeto oleh-oleh lan yatra (kalau pulang ya selalu bawa oleh-oleh dan uang),'' tutur Samsuri.
Tentang hubungan dengan Mulyono, kakek itu menuturkan, sebelum sampai ke kursi pelaminan, kisah asmara Jilah-Mulyono sudah berlangsung lama. Namun secara tiba-tiba Siti Nur Jazilah pergi ke Kalimantan tanpa alasan yang jelas. Samsuri mengungkapkan, Mulyono adalah warga Pasuruan yang akhirnya menjadikan Lisa sebagai istri keduanya. '' Tapi pastinya saya tidak tahu apakah memang benar-benar sudah menikah atau belum. Yang memberi nama Lisa untuk Jilah juga Mulyono,'' ucapnya.
Jati dirinya memang masih penuh misteri. Hanya Jilah sendiri yang tahu dan berhak menceritakannya.
Keluar dari ICU
Kapan Lisa keluar dari ruang ICU RSUD Dr Soetomo? Pasien yang telah menjalani operasi face off (rekonstruksi wajah secara total) selama 18 jam itu menunjukkan perkembangan fisik bagus. Karena itu, pada hari Senin (3/4), tim dokter RS Dr Soetomo baru memutuskan apakah Lisa tetap berada di ruang ICU atau bisa dipindahkan ke ruang lain seiring menurunnya status kritis yang bersangkutan.
Dokter David Perdanakusuma SpBP, anggota tim dokter yang ikut mengoperasi kemarin mengemukakan, perkembangan kondisi fisik Lisa, Minggu kemarin, jauh lebih baik dibanding hari-hari sebelumnya. Meski demikian, tim dokter RS terbesar di Indonesia timur itu belum bisa mengambil keputusan apakah Lisa bisa dikeluarkan dari ICU atau tidak. Sebab, masa kritis kedua Lisa pada hari Minggu. ''Rencananya, baru hari Senin diputuskan masalah itu,'' paparnya.
Pada masa kritis kedua ini, napasnya sempat tersengal-sengal. Menurut David, kondisi itu terjadi karena emosinya naik seiring banyaknya orang luar yang melihatnya dari jauh. Tim dokter juga mengingatkan dia tetap pada kondisi semula seperti pascaoperasi. Sebab, benang jahitan di wajah dan bagian tubuh lainnya saat operasi belum sepenuhnya
kering dan belum dapat diangkat.
''Kita berharap kondisi Lisa makin membaik,'' harapnya.
Lambaikan Tangan
Sementara itu, saat dibesuk Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari di lantai II ruang ICU RS Dr Soetomo, Lisa sempat melambaikan tangan. Orang pertama di Departemen Kesehatan itu khusus datang untuk memberikan dukungan moral kepada Lisa sekaligus mengucapkan selamat kepada tim dokter yang berhasil menjalankan operasi pertama di Indonesia.
Siti Fadilah tak bisa berkomunikasi langsung dengan Lisa. Maklum, yang bersangkutan sekarang masih dalam kondisi kritis. Menkes terlihat menangis dan berlinang
air mata melihat kondisi fisik Lisa pascaoperasi. Kepada wartawan, Menkes meminta kasus yang menimpa Lisa dan kekerasan lainnya kepada wanita Indonesia diusut secara tuntas. ''Sebagai wanita, saya juga merasa sakit,'' ucapnya.
Seiring dengan harapan Menkes, tim Polwiltabes Surabaya sejak beberapa hari lalu mengintensifkan penyelidikan mengenai siapa pelaku penyiraman air keras ke istri Mulyono tersebut. Di samping itu, polisi juga ingin tahu motif tindakan tak berperikemanusiaan itu.
Dalam kaitan penyelidikan hukum itu, polisi telah memeriksa beberapa orang. Di antaranya Mulyono (suami Lisa), Saring (ayah Lisa), dan beberapa anggota keluarga Mulyono di Bangunrejo Surabaya dan kerabat lainnya di Pasuruan. Sampai kemarin belum ada orang yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kaitan kasus ini.
Kanit Idik I Polwiltabes Surabaya AKP Jumhur mengungkapkan, pengusutan terus dilakukan polisi untuk menemukan pelaku dan motif tindakan penyiraman air keras ke wajah Lisa tersebut. Tentunya, dalam konteks ini Lisa yang paling tahu orang yang membuat wajahnya cacat tersebut.
Karena itu, sejak kemarin petugas kepolisian memperketat penjagaan ruang ICU RS Dr Soetomo, tempat dia menjalani perawatan. Di sekitar ruang dia dirawat, kini tak hanya ada petugas keamanan reguler dari intern RS Dr Soetomo, beberapa polisi juga ditempatkan di lantai I dan II tempat Lisa menjalani perawatan intensif. ''Langkah ini ditempuh untuk menghindarkan hal-hal tak diinginkan,'' tandas Ketua
Forum Pers RS Dr Soetomo, dokter Urip Murtedjo. (Wiharjono, Ainur Rohim-64v)

Lisa Jalani Operasi Face Off Ke-16

Posted by kiteaje 23.39, under | No comments

Sejumlah tim bedah face off Siti Nur Jazila alias Lisa (26)
 menjalani operasi perbaikan wajah di ruang
 operasi Gedung Bedah Pusat Terpadu (GBPT) RSU
dr Soetomo Surabaya, bulan Juni 2010 lalu. Lisa, 
pasien face off yang merupakan korban kekerasan 
dalam rumah tangga (KDRT). foto:Antara

Siti Nur Jazila alias Lisa pasien yang melakukan "face off", jalani operasi ke 16-nya di Gedung Bedah Pusat Terpadu (GBPT) RSU dr Soetomo, Jalan Dharmawangsa, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (28/7).
Operasi yang berlangusng selama empat jam tersebut, untuk memperbaiki tiga titik di wajah, memperbaiki hidung, bibir dan pipi kanan
Menurut Ketua Tim "Face Off" RSU dr Soetomo, Prof dr Sjaifuddin Noer SpBP, jaringan parut yang ada di bagian leher Lisa rencananya juga akan dioperasi, namun tidak jadi karena masih tidak diperlukan.
"Setelah kami teliti, jaringan parut di leher ternyata tidak perlu diangkat," kata Sjaifuddin kepada wartawan usai operasi.
Operasi diawali pada bagian hidung yang bentuknya tidak simetris. Dalam tahapan ini, rekonstruksi dilakukan agar bentuk hidung terlihat lebih simetris.
"Tim dokter harus bekerja ekstra hati-hati memperbaiki bentuk hidung. Upaya rekonstruksi dilakukan agar tidak merusak tulang rusuk yang tahun lalu dipasang sebagai pengganti tulang hidung," kata dia.
Selesai mengerjakan bagian hidung, tim dokter beralih ke bibir. Di sini, ketebalan bibir bagian kanan bawah dikurangi. Caranya dengan mengiris bagian yang tebal hingga bentuknya sama dengan kiri.
Pada tahapan ini, tim dokter tidak banyak mendapat kesulitan dibanding saat mengerjakan hidung.
Operasi kemudian dilanjutkan dengan memperbaiki pipi kanan yang sedikit turun. Teknik "face lifting" digunakan tim dokter untuk membuat pipi kanan Lisa lebih terangkat.
"Sama seperti pada pengerjaan bibir, tim dokter tidak banyak menemui kesulitan. Teknik ini bukan hal baru bagi dokter bedah plastik. Hampir setiap hari kami melakukan operasi semacam ini," papar Sjaifuddin.
Disinggung berapa kali lagi Lisa harus menjalani operasi, pihaknya belum bisa memastikan. Ini karena tahapan operasi yang dilakukan sekarang lebih pada estetika, yakni melakukan perbaikan agar wajah Lisa terlihat lebih baik dari sebelumnya.

Sabtu, 29 Oktober 2011

Sumi Octavia

Posted by kiteaje 07.20, under | No comments





Name    : Sumi Octavia
NIM      : 11092454
Class     : 11.5A.07


Jangan menjadi orang lain karena seseorang menuntutmu menjadi berbeda, tapi ikuti kata hati dan tetap jadi diri sendiri. Tuhan menciptakan manusia untuk menyatukan perbedaan bukan mencocokan kesamaan satu sama lainnya

Lakukanlah yang terbaik yang bisa engkau lakukan, jangan memikirkan apa yang orang lain katakan tentang engkau tetapi pikirkan apa yang akan engkau lakukan dalam hidupmu.


Rusminah

Posted by kiteaje 07.17, under | No comments


Name   : Rusminah    
NIM     : 11092437
Class    : 11.5A.07

Adinda Puspita

Posted by kiteaje 07.15, under | No comments


Name    :  Adinda Puspita
NIM      : 11092435
Class     : 11.5A.07