Lisa Lambaikan Tangan pada
 |
| Lisa |
Sejak namanya tertulis di media massa sebagai pasien operasi wajah, banyak yang penasaran siapa sebenarnya jati diri Siti Nur Jazilah atau Lisa. Benarkah dia menjadi korban broken home? Berikut catatan wartawan Suara Merdeka di Malang dan Surabaya.
SAAT muncul di televisi diberitakan ada seorang wanita bakal menjalani operasi wajah di rumah sakit Dr Soetomo Surabaya, bagi pasangan kakek nenek Samsuri Kusnoto -Wakinah terbesit tanda tanya besar tentang sosok wanita bernama Lisa. Apalagi belakangan nama Lisa lebih populer dibalik nama aslinya Siti Nur Jazilah.
"Apa Lisa itu bukan Jilah anaknya Saring-Siti Zulaikah? Apa bukan isterinya Mulyono?" berulang kali kata-kata itu diucapkan Samsuri dan Wakinah. Mereka hanya bertanya tanpa mendapatkan jawaban yang pasti.
Bahkan rumahnya menjadi "jujugan" tetangga sekitar yang punya tujuan sama, bertanya dan mencari kejelasan jati diri Lisa. Adalah Agus Salim, Kepala Desa Jeru, Malang. Mendengar nama Lisa, ia segera ingat kalau kakek nenek Samsuri yang tinggal di Dusun Panjer Desa Jeru RW 10 RT 03 punya cucu bernama Siti NurJalizah yang diperkirakan tujuh tahun tidak pulang.
''Lisa berasal dari keluarga broken home. Lama sekali saya tidak tahu di mana keberadaannya. Perkiraan saya Lisa itu bekerja di luar kota,'' katanya.
Menurut penuturannya, pernah ibunya dan kakak Lisa membawa dia ke psikiater karena depresi setelah ekonominya berantakan.
Perkembangan kabar berikutnya, Lisa, 22 tahun adalah korban women trafficking(perdagangan wanita-Red) tampaknya tidak meleset jauh. Dari pengakuan beberapa warga di Desa Jeru Turen, Turen, Malang di mana Jazil atau Jilah tinggal, gadis itu putus sekolah sejak kelas 2 Madrasah Tsanawiyah di desa setempat.
Kabar selanjutnya Lisa bekerja sebagai buruh di Malang meski kepastian tempatnya juga tidak diketahui. Kabar lainnya menyusul pada tahun 2001, ia terperangkap sebagai pekerja seks, namun secara tiba-tiba berselang satu tahun kemudian Jilah datang dengan laki-laki bernama Mulyono yang diaku sebagai suaminya. Hal itu diungkapkan Sholeh, tetangga Samsuri-Wakinah. Kepada kakeknya, Jilah pernah menunjukkan surat nikah dengan Mulyono. Pernikahannya dilakukan di Surabaya.
Tentang drop out-nya sekolah Lisa diakui Samsuri dan Wakinah. Masalahnya, karena waktu itu kondisi ekonomi keluarga Saring berantakan. Terlebih lagi setelah Saring ke Surabaya dan ibunya jadi TKW. Jilah kemudian bekerja di Surabaya. Beberapa kali menyempatkan pulang menengok kakek-neneknya di Jeru. "Nek wangsul mesti nggih mbeto oleh-oleh lan yatra (kalau pulang ya selalu bawa oleh-oleh dan uang),'' tutur Samsuri.
Tentang hubungan dengan Mulyono, kakek itu menuturkan, sebelum sampai ke kursi pelaminan, kisah asmara Jilah-Mulyono sudah berlangsung lama. Namun secara tiba-tiba Siti Nur Jazilah pergi ke Kalimantan tanpa alasan yang jelas. Samsuri mengungkapkan, Mulyono adalah warga Pasuruan yang akhirnya menjadikan Lisa sebagai istri keduanya. '' Tapi pastinya saya tidak tahu apakah memang benar-benar sudah menikah atau belum. Yang memberi nama Lisa untuk Jilah juga Mulyono,'' ucapnya.
Jati dirinya memang masih penuh misteri. Hanya Jilah sendiri yang tahu dan berhak menceritakannya.
Keluar dari ICU
Kapan Lisa keluar dari ruang ICU RSUD Dr Soetomo? Pasien yang telah menjalani operasi face off (rekonstruksi wajah secara total) selama 18 jam itu menunjukkan perkembangan fisik bagus. Karena itu, pada hari Senin (3/4), tim dokter RS Dr Soetomo baru memutuskan apakah Lisa tetap berada di ruang ICU atau bisa dipindahkan ke ruang lain seiring menurunnya status kritis yang bersangkutan.
Dokter David Perdanakusuma SpBP, anggota tim dokter yang ikut mengoperasi kemarin mengemukakan, perkembangan kondisi fisik Lisa, Minggu kemarin, jauh lebih baik dibanding hari-hari sebelumnya. Meski demikian, tim dokter RS terbesar di Indonesia timur itu belum bisa mengambil keputusan apakah Lisa bisa dikeluarkan dari ICU atau tidak. Sebab, masa kritis kedua Lisa pada hari Minggu. ''Rencananya, baru hari Senin diputuskan masalah itu,'' paparnya.
Pada masa kritis kedua ini, napasnya sempat tersengal-sengal. Menurut David, kondisi itu terjadi karena emosinya naik seiring banyaknya orang luar yang melihatnya dari jauh. Tim dokter juga mengingatkan dia tetap pada kondisi semula seperti pascaoperasi. Sebab, benang jahitan di wajah dan bagian tubuh lainnya saat operasi belum sepenuhnya
kering dan belum dapat diangkat.
''Kita berharap kondisi Lisa makin membaik,'' harapnya.
Lambaikan Tangan
Sementara itu, saat dibesuk Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari di lantai II ruang ICU RS Dr Soetomo, Lisa sempat melambaikan tangan. Orang pertama di Departemen Kesehatan itu khusus datang untuk memberikan dukungan moral kepada Lisa sekaligus mengucapkan selamat kepada tim dokter yang berhasil menjalankan operasi pertama di Indonesia.
Siti Fadilah tak bisa berkomunikasi langsung dengan Lisa. Maklum, yang bersangkutan sekarang masih dalam kondisi kritis. Menkes terlihat menangis dan berlinang
air mata melihat kondisi fisik Lisa pascaoperasi. Kepada wartawan, Menkes meminta kasus yang menimpa Lisa dan kekerasan lainnya kepada wanita Indonesia diusut secara tuntas. ''Sebagai wanita, saya juga merasa sakit,'' ucapnya.
Seiring dengan harapan Menkes, tim Polwiltabes Surabaya sejak beberapa hari lalu mengintensifkan penyelidikan mengenai siapa pelaku penyiraman air keras ke istri Mulyono tersebut. Di samping itu, polisi juga ingin tahu motif tindakan tak berperikemanusiaan itu.
Dalam kaitan penyelidikan hukum itu, polisi telah memeriksa beberapa orang. Di antaranya Mulyono (suami Lisa), Saring (ayah Lisa), dan beberapa anggota keluarga Mulyono di Bangunrejo Surabaya dan kerabat lainnya di Pasuruan. Sampai kemarin belum ada orang yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kaitan kasus ini.
Kanit Idik I Polwiltabes Surabaya AKP Jumhur mengungkapkan, pengusutan terus dilakukan polisi untuk menemukan pelaku dan motif tindakan penyiraman air keras ke wajah Lisa tersebut. Tentunya, dalam konteks ini Lisa yang paling tahu orang yang membuat wajahnya cacat tersebut.
Karena itu, sejak kemarin petugas kepolisian memperketat penjagaan ruang ICU RS Dr Soetomo, tempat dia menjalani perawatan. Di sekitar ruang dia dirawat, kini tak hanya ada petugas keamanan reguler dari intern RS Dr Soetomo, beberapa polisi juga ditempatkan di lantai I dan II tempat Lisa menjalani perawatan intensif. ''Langkah ini ditempuh untuk menghindarkan hal-hal tak diinginkan,'' tandas Ketua
Forum Pers RS Dr Soetomo, dokter Urip Murtedjo. (Wiharjono, Ainur Rohim-64v)