Jumat, 21 Oktober 2011

Public Figure dan Perang Budaya

Posted by kiteaje 05.16, under | No comments

Dengan alasan apapun, seseorang yang dijadikan atau merelakan diri menjadi public figure harus mampu memberikan keteladanan. Ini penting karena public figure memiliki wilayah “keterbukaan” yang bisa diakses masyarakat umum. Berbeda dengan masyarakat biasa, perilaku public figure akan dilihat dan dicermati dengan seksama. Memang benar public figure juga manusia biasa, tapi “kerelaan” menjadi public figure menuntut sikap dan perilaku yang layak diteladani.

Disadari atau tidak, masyarakat tanpa tembok penghalang akan begitu mudah menyaksikan apa yang dilakukan public figure. Apalagi kemajuan teknologi informasi dan era keterbukaan amat sangat menyadarkan masyarakat terhadap seluk beluk kehidupan public figure. Sisi negatif public figure bisa menimbulkan efek ganda. Pertama, penurunan citra public figure itu sendiri.

Kredibilitas mulai diragukan di mata masyarakat yang perlahan menyebabkan ketidakpercayaan terhadap public figure bersangkutan. Bagi public figure yang berafiliasi kepada sebuah kelompok, maka citra kelompok sedikit banyak ikut terkena imbas. Kedua, contoh tidak terpuji. Ada kekuatan tak disadari dari public figure yang bisa mempengaruhi kehidupan masyarakat. Perilaku negatif yang ditampakkan bisa dijadikan model dan seolah-olah dianggap sebagai sebuah kewajaran meskipun menihilkan etika. Menjadi kekhawatiran tersendiri karena efek kedua ini biasanya terjadi pada anak-anak muda.

Harus diakui anak-anak muda zaman sekarang memang berbeda dengan anak-anak muda tempo dulu. Jika dahulu pergaulan antar lawan jenis masih mengedepankan nilai-nilai kepatutan, namun kini cenderung bebas tak karuan. Sebagian anak-anak muda tempo kini bisa dikatakan kurang memahami hakikat seks, sehingga tanpa merasa canggung menggadaikan kehormatan dan harga dirinya. Hal ini bukan mengada-ada, tetapi sebuah fakta yang tak perlu ditutup-tutupi.

Kita bisa menyaksikan, dalam berpacaran saja anak-anak muda sekarang terlihat kurang santun. Berciuman dan berpelukan antar lawan jenis sudah kelewat batas. Tubuh tidak lagi sebagai sesuatu yang sakral, tetapi diumbar begitu saja. Jika dahulu perempuan disentuh oleh laki-laki terasa jijik, namun kini diremas-remas sudah dianggap biasa. Lebih memprihatinkan lagi, virus pacaran nir-moral dan etika juga menjangkiti anak-anak usia sekolah. Anak-anak usia sekolah pada jenjang pendidikan menengah, bahkan jenjang pendidikan dasar menyibukkan diri mencari pacar ketimbang belajar tekun memperdalam ilmu pengetahuan. Bukan maksud menggeneralisasi, tapi kenyataan tersebut setidaknya membuka mata kita untuk menciptakan solusi cerdas sekaligus bijak.

Harus menjadi kesadaran bahwa artis merupakan public figure yang terus menggelayuti pikiran dan emosi anak-anak muda. Bersamaan dengan masih rendahnya budaya membaca, anak-anak muda menjadikan televisi dengan artis-artis yang terlibat di dalamnya sebagai guru virtual. Anak-anak muda belajar dan menirukan gaya hidup mereka tanpa analisis kritis.

Diakui atau tidak, fenomena di atas sebenarnya menunjukkan kekalahan bangsa kita dalam pertarungan budaya. “Perang budaya” semenjak lama telah berkobar, namun kekuatan budaya bangsa kita “malu unjuk gigi”. Mentalitas inferior alias rendah diri menghujam begitu kuat, sehingga selalu menganggap budaya produk luar lebih unggul. Bangsa kita tampak tidak memiliki sikap dan pendirian teguh menghadapi “perang budaya” yang memang tak bisa dihindari.

0 komentar:

Posting Komentar